BAB 21-3

839 Kata

Kang Iyal berkedip beberapa kali. Lalu senyumnya terbit kembali. Ia kemudian menunduk sejenak sambil mengusap alisnya. “Maaf ya, Nda,” ujarnya akhirnya, lembut. ‘Pasti dia mau bilang kalau dia sudah punya cewek deh. Duh, tambah malu deh gue.’ “Lagi ada dokter yang cuti, jadi pasien Akang lumayan rame. Hampir nggak ada jeda antar pasien, Nda,” sambungnya. Aku diam. Menunggu kalimat selanjutnya yang sejauh ini tertanam di kepalaku. Namun... tak ada. Kang Iyal justru mengacak-acak rambutku singkat. “Jangan marah, Nda.” Aku berdehem. “Akang dimaafin nggak?” tanyanya kemudian. Belum, aku belum lega. Namun karena permintaan maafnya terdengar begitu tulus, aku malah semakin merasa kelewatan. “Iya,” gumamku akhirnya. Hening menyusup lagi. Kang Iyal meneguk habis jusnya, sementara aku m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN