Aku tak bangun, tak pula menoleh. Langkah kaki Mama mendekat lebih dulu. Diikuti Papa. Kasur bergerak sedikit saat mereka bergabung denganku. Mama berbaring di sebelahku. Papa di sisi satunya. Mengapit. Seperti dulu. Saat kami masih lengkap. Untuk beberapa saat, tak ada yang bicara. “Memangnya siapa cewek yang lagi Iyal taksir?” tanya Papa, memecah hening. Aku menoleh, dan Papa tetap menatap langit-langit. Mama mengubah hadap, kini berbaring miring ke arahku. “Lho, kok Iyal nggak cerita ke Mama?” Kini aku menoleh ke ibuku. Papa terkekeh. “Papa juga nggak akan tau kalau bukan karena Mehdi yang nyeplos.” Mama mengernyitkan kening, seolah tak terima jika putra sulungnya ini menyembunyikan sesuatu darinya. “Saha atuh, Yal?” Aku menatap langit-langit lagi, mencari kata yang tepat. J

