Kejutannya belum selesai. Masih berlanjut saat kami melangkah masuk ke kabin. Aku dan Kang Iyal duduk di satu baris yang sama. Hanya terpisah satu kursi di sampingku dan lorong. “Tas Nda?” ujarnya seraya mengulurkan tangan setelah meletakkan ranselnya di bagasi kabin. Kubiarkan ia membantu. “Jadi kayak sabotase,” gumamku kemudian. “Apanya?” balasnya. Aku melirik ke kursinya. Kang Iyal terkekeh. “Mas Beni tuh yang punya gawe, Nda.” Mas Beni yang kebetulan mendengar malah tergelak renyah. “Berkah di balik sabotase.” “Ngarang,” sahutku. Tawa Kang Iyal dan Mas Beni kian pecah. “Berkah buat aku, Kak Amanda,” timpal Mas Beni kemudian. “Jadi gampang mantau semua peserta. Jangan su’uzhon gitu dong.” Aku memberengut. Kang Iyal mengusap puncak kepalaku sebelum akhirnya duduk di kursinya

