Mama mengangguk. “Bukan karena berjaga-jaga kalau Amanda jadi keingatan Yupi lagi dan jadi ragu sama kamu. Tapi, perasaan sedih tuh… datangnya suka nggak pakai izin. Apalagi kalau dipicu oleh hal yang dia sendiri belum siap hadapi.” Aku diam sejenak, memproses semua kata-kata itu sambil mengunyah pelan. “Tapi, menurut Mama ada hal lain yang mengganggu pikiran Amanda.” “Apa itu, Ma?” tanggapku. Air putih kuteguk, lalu memusatkan perhatianku ke Mama. Beliau menghela napas pelan. “Kalau Mama jadi Amanda… Mama justru akan lebih takut kamu belum benar-benar selesai dengan masa lalumu.” Deg! “Takut kalau kamu cuma butuh seseorang untuk mengisi kekosongan itu,” lanjut Mama. Aku tak langsung menanggapi. “…dan Amanda jadi orang itu.” Tersua hening sejenak. Hanya suara sendok Papa yang sese

