BAB 29-2

621 Kata

Isi piringku masih setengah penuh saat Kang Iyal duduk di sampingku, di kursi yang sebelumnya diisi Ziva. Aku diam saja, masih malas menoleh, enggan merespon. Sementara teman-teman satu per satu pamit beranjak ke kamar untuk bersiap. Iya, makanku lambat. Bukan karena sengaja untuk mencari perhatian, namun karena perutku tak nyaman. Kang Iyal mendekatkan secangkir coklat yang masih mengepulkan uap.. “Sambil diminum, Nda. Biar hangat perutnya.” Aku mendengus untuk kesekian kalinya pagi ini. “Hmm. Thanks.” “Bad mood ya?” tanya Kang Iyal kemudian. ‘Dih, pake nanya coba dia!’ “Menurut Akang aja gimana,” sahutku, ketus. Ia menatapku lekat, seolah menerka sesuatu yang tak aku ucapkan. Lalu... seorang staf hotel mendekati kami. Memberikan sebuah benda yang aku kenali sebagai kompres hang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN