BAB 30-2

831 Kata

Kami berhenti kali kedua di pedagang yang menjual buah-buah kering dan kacang-kacangan. Tumpukan warna memenuhi pandanganku. Oranye terang, cokelat tua, keemasan, hingga hitam mengilap. Disusun rapi dalam kotak-kotak kayu yang dimiringkan, seperti pelangi versi pasar. “Waaah,” gumamku tanpa sadar. “Kita beli almond dan walnut buat kamu ya, Nda,” ujar Kang Iyal. “Kok buat Nda?” “Sama... hazelnut juga.” Aku mengerjap. “Almond buat ngurangin kram. Walnut biar nggak mood swing. Hazelnut biar kamu nggak lemas.” “Pas kuliah Akang juga belajar perkacangan?” Kang Iyal terkekeh. “Nggak. Akang nanya AI kok.” “Ish! Kirain!” Penjualnya, seorang pria paruh baya, tersenyum ramah pada kami. Ia lalu menyodorkan beberapa potong kecil ke kami. “Try, try!” ujarnya. Aku menoleh ke Kang Iyal. Ia m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN