BAB 31-2

714 Kata

“Anggap aja yang kedua, Mas,” tanggapku. Layar kugulir lagi, deretan foto-foto berubah lagi. Saat free time setelah makan siang. Sebagian mengunjungi museum, sebagian lainnya duduk santai di taman, sisanya—termasuk aku dan Amanda—berjalan-jalan di sekitar alun-alun. Aku menggeser foto lagi, mendapati Amanda yang duduk di pinggir trotoar. Ia tersenyum ke arah kamera. “Kayaknya banyakan foto Amanda,” ujar Mas Beni lagi. “Nggak juga kok, Mas. Banyakan foto tempat.” Aku mengelak. “Dengan Amanda sebagai modelnya. Gitu kan?” balasnya. Aku tergelak. “Ketebak banget lagi naksir berat,” ujar Mas Beni lagi. Aku mulai menyortir file, memindahkan ke hard drive. Sementara Mas Beni kembali sibuk ngebut menyelesaikan dengan pekerjaannya. Suasana kamar tenang kembali. Hanya ada suara ketikan di k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN