BAB 36-3

657 Kata

Malam datang, menggantikan langit senja yang tadi sempat memantul indah di permukaan danau. Suhu udara kembali turun, angin bertiup lebih dingin—membawa aroma air dan tanah yang lembap. Bonfire dinyalakan di tengah halaman. Kayu-kayu kering disusun rapi, lalu api mulai menyala, perlahan menghangatkan sekelilingnya. Satu per satu kami berkumpul. Ada yang membawa selimut tipis, ada yang menggenggam cangkir hangat, ada juga yang hanya duduk diam, menikmati suara kayu yang sesekali berderak terbakar. Cahaya api menari di wajah-wajah yang duduk melingkar. Bayangan bergerak pelan di tanah, mengikuti arah nyala yang tak pernah diam. Udara memang dingin. Menusuk sampai ke ujung jari. Tapi entah kenapa… suasana terasa hangat. Bukan karena apinya. Tapi karena kebersamaan yang tanpa disadari… mu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN