BAB 42-2

1068 Kata

Beliau mengangguk, menutup map CV-ku, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. “Kalau pasien datang dengan keluhan nyeri hebat, tapi dari pemeriksaan ternyata kasusnya butuh perawatan lanjutan—misalnya endodontik—apa yang Anda lakukan?” Aku menarik napas sejenak. “Saya tangani keluhan utamanya dulu, Dok. Pain management. Setelah itu saya jelaskan kondisi giginya dengan bahasa yang mudah dipahami pasien, termasuk opsi perawatan dan konsekuensinya. Kalau fasilitas tidak memadai, saya rujuk dengan penjelasan sebaik mungkin supaya pasien tetap merasa ditangani, bukan ‘dilempar’.” Tatapan dr. Arshaka tak berubah. Datar, namun jelas menilai. “Pernah menghadapi pasien yang sulit?” Aku tersenyum simpul. Singkat. “Sering, Dok.” “Contohnya?” “Pasien anak dengan dental anxiety, atau pasien

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN