BAB 46-3

929 Kata

“Nggak nargetin harus cepat sih, Dok. Tapi bukan berarti sengaja dilamain.” “Namanya bergegas.” “Begitu selesai dengan diri masing-masing,” tambahku. “Itu pesannya Papa Mama, Dok. Biar saat ujian pernikahan datang, nggak ada yang menyesal, nggak ada yang saling menyalahkan.” “Yang ada cuma team,” lanjut dr. April. Aku mengangguk. “Mohon doanya aja, Dok.” “Insya Allah. Soal kerjaan, kalau diterima alhamdulillah. Kalau belum, ya berarti belum tempatnya. Next time coba lagi.” dr. Irgi mengangguk setuju. “Betul. Rumah sakit besar itu kadang bukan soal siapa paling pintar. Kadang soal siapa yang paling cocok sama ritmenya.” Aku mendengarkan dengan baik. Karena dari tadi, meski obrolannya ringan, aku tahu beliau berdua tak bicara omong kosong. “Dan ritme RSPI itu cepat,” lanjut dr. Irgi.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN