BAB 47-2

709 Kata

Susi tergelak, lalu mendengus keras. “Dokter tuh suka nyebelin, suka sok cool, suka tiba-tiba planga-plongo, suka maksain diri. Tapi… kan kita partner in crime terkompak, Dok.” Aku mengangguk. “Bener,” tanggapku. “And... thank you untuk semuanya, Suster Susi.” Susi memberengut. “Jangan lupain kita kalau sudah jadi dokter gigi terkeren di RSPI, Dok.” Aku tertawa lagi. “Buruan masuk ih, Dok.” “Lah kamu yang ngajak ngobrol.” “Kasian pasiennya nunggu, Dok,” kekehnya. Pasien terakhirku hari ini adalah bapak paruh baya yang tempo hari datang dengan keluhan nyeri hebat dan harus menjalani perawatan akar. Ini adalah kunjungan ketiganya. Aku masuk ke ruang praktik. “Assalamu’alaikum, Pak.” “Wa’alaikumussalam, Dok,” jawab beliau. Aku tersenyum simpul. “Gimana, Pak? Masih sakit?” “Alhamdu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN