Aku mengangguk. “Insya Allah, Pa. Dan mungkin, karena Kang Iyal abangnya Yupi, makanya Nda ngerasa nyaman.” Beliau berdua mengangguk. “Dia sayang sama Nda?” tanya Papa Ga lagi. Aku diam sejenak, lalu mengangguk. Tatapan beliau kian intens. “Yakin?” “Insya Allah, Pa.” “Kalau ngomong dan sikapnya kasar nggak?” timpal Ayah Borne. “Nggak, Yah,” tanggapku. “Ayah nggak ngarepin sesuatu yang buruk ke anak-anak Ayah, tapi kalau sedikit aja Nda ngerasa ada yang nggak beres, langsung lari, kasih tau Ayah, Papi, Papa Ga. Oke?” Aku tersenyum, mengangguk patuh. “Ayo, sarapan dulu,” seru Mami dari ruang makan. “Itu anak perutnya belum keiisi udah dicecar aja!” Kami berempat berdiri. Namun sebelum sempat kami beranjak, bel rumah berbunyi. Semua menoleh. “Nda aja yang bukain,” ujarku. “Iyal

