Praktik rawat jalanku berjalan lumayan padat. Dua pasien tambal, satu scaling, satu pasien trauma karena pengalaman buruk dengan dokter gigi sebelumnya, lalu seorang pria dewasa yang hanya datang untuk konsultasi namun ternyata butuh perawatan lebih lanjut. Aku bekerja seperti biasa. Menjelaskan. Memeriksa. Menentukan langkah terapi dan pengobatan. Suster Hafa beberapa kali masuk dengan tray alat atau berkas pasien. Semua berjalan semestinya. Sampai selepas magrib, seorang pasien masuk ke unit dengan ekspresi agak cemas. Ia duduk berhadapan dengan pintu ruang praktikku. “Kok gitu penampilannya,” lirih Suster Hafa yang sampai ke telingaku. “Habis ada acara kali, Sus,” tanggapku, ikut berbisik. “Kalau pasien aku, pastiin jubah tindakan dipakai aja.” “Takut nggak konsen ya, Dok?” “Bu

