BAB 96

1506 Kata

“Kita sampai, Bang,” ujar Mang Bonte. Langit Jakarta masih pucat saat sedan hitam milik Papi berhenti di area parkir pengadilan. Aku menatap keluar jendela, terdiam. Gedung itu lagi. Lorong itu lagi. Sidang lagi. Dan entah kenapa… tiap datang ke tempat ini, tubuhku selalu terasa lebih berat. “Lo tetep di sini. Jangan lupa cek anak-anak yang jagain Eldra,” balas Papi. “Siap, Bang!” “Yal?” Papi beralih padaku. Aku menoleh. Beliau memperhatikanku dari ujung kepala sampai kaki. “It’s fine kalau kamu nggak mau masuk.” “Iyal ikut, Pi,” tegasku. “Kamu punya kebiasaan ngepalin tangan saat nahan emosi. Jangan bikin masalah baru,” ujar beliau lagi seraya mendelik ke tanganku yang masih berbalut perban. Aku mengangguk. “Insya Allah, Pi.” “Masih sakit banget emangnya, Yal?” tanya Mami.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN