Pukul 22:50. Aku masih berdiri di depan cermin. Padahal mulai bersiap sejak pukul 20:30 tadi. “Kayaknya bagusan pakai jaketnya Kak Sofi,” monologku. Kemudian kepalaku menggeleng. “Tapi begini juga lucu. Tinggal bawa cardigan kalau-kalau nanti diperluin. Iya nggak sih?” Pintu kamarku dibuka setelah ketukan pelan beberapa kali. Kakakku muncul dengan mata membelalak. “Astaghfirullah,” lirihnya. “Mau cuci gudang lo?” “Bingung mau pakai baju apa,” tanggapku, manyun. Ia mendengus. “Pake piyama, rambut di-roll, sendal rumah.” Aku mendecak. “Malah ngasih saran aneh sih, Kak!” sentakku, kesal. “Justru itu yang paling normal, Nda,” tanggapnya. “Rakyat Jakarta yang mana masuk kafe tengah malam pakai jeans, babydooll blouse, dan blazer. Mau meet up sama kunti lo?” “Blazernya ganti cardiga
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


