BAB 76

1189 Kata

“Akang ih! Nda merinding tau. Malah iseng!” sambatnya. Aku terkekeh, lalu menghidu ceruk lehernya lagi. Wanginya ditambah usapan dan dekapannya... benar-benar kombinasi penenang terampuh. Hingga... ‘Tok-tok!’ Ada yang mengetuk kaca mobil di samping Amanda. Pelukan kami spontan terurai. Aku langsung mundur. Amanda kaku. Kami saling pandang. Aku tak berani menggeser titik pandang untuk mencari tahu siapa yang menyambangi kami. Sementara Amanda takut menoleh ke balik punggungnya. Lalu… kami sama-sama mencengir kaku... ngeri, tapi juga malu. Amanda mendengus hingga pipinya menggembung. Aku membenarkan posisi duduk, masih menolak melihat ke target. Sampai akhirnya, Amanda menurunkan jendela. Jantungku mencelos, titik pandangku mengikuti batas kaca yang bergerak ke bawah. Dan... O

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN