Matteo menendang pintu kamarnya dengan lesu. Badannya terasa remuk setelah seharian sibuk menyiapkan pesta makan malam untuk menyambut Abimana dan istrinya. Jas sudah ia lepas, dasi terurai begitu saja menggantung di leher, kemeja bagian atasnya terbuka dua kancing, memperlihatkan d**a bidang yang berkeringat tipis. Ia hanya ingin mandi, rebah, lalu mati rasa di ranjang empuknya. Tapi langkahnya terhenti. Di ujung ranjang, Reina sudah duduk manis, menyilangkan kaki dengan gaun pendek yang sama sekali tidak cocok untuk waktu malam. Senyum miringnya seperti duri yang langsung menusuk mata Matteo. “Reina,” suara Matteo serak, tercampur kaget dan jengkel. “Apa yang kau lakukan di sini?” Reina menoleh pelan, menatapnya dengan tatapan malas tapi tajam. “Pertanyaan konyol. Kenapa kau pura-pur

