Matteo baru saja menutup pintu ruangan itu. Jemarinya masih sedikit gemetar, bukan karena takut akan dihabisi, tapi karena otaknya belum bisa mencerna apa yang baru saja ia lihat. Seumur hidup menjadi bayangan Alvaro De Luca, baru kali ini ia merasa jantungnya nyaris copot hanya karena melihat bosnya sendiri berdandan seperti tokoh cabaret Paris. Ia menarik napas dalam-dalam. Entah mana yang lebih menyeramkan, Alvaro dengan pistol, atau Alvaro dengan lipstik merah menyala dan wig pirang sebahu. Langkahnya berat saat ia melewati lorong menuju taman. Ia ingin menenangkan diri, menata ulang urat syarafnya yang terguncang. Suara sepatu boots-nya beradu pelan dengan lantai kerikil, diiringi suara angin sore yang berembus pelan dari arah pepohonan. Namun langkahnya terhenti. Di bawah pohon ka

