Tangisan Dede

1821 Kata

Dede berjalan tanpa arah yang jelas begitu keluar dari restoran. Langkahnya cepat di awal karena dikuasai amarah, lalu makin lama makin melambat, ia lelah. Udara siang jam setengah tiga ini mulai terasa pengap di dadanya. Jarak satu kilometer yang biasanya dirasa dekat itu, kini mendadak terasa jauh sekali. Baru dua ratus meter saja wajahnya sudah memerah. Dede baru teringat dengan jasa ojek pangkalan ketika melihat disudut salah satu gang ada pangkalan ojek. "Ojek kak?" "Iya bang." "Kemana kita, kak?" "Di depan itu aja, nggak jauh." "Ayolah." Dede naik ke atas motor, lalu motor itu bergerak. Begitu sampai di depan rumah dan membayar ojeknya, ia hendak membuka pintu pagar dengan tangan yang agak gemetar, tapi ternyata dari dalam sudah membukanya duluan, ternyata bang Zaki yang sudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN