Arsya turun dari tangga lantai dua dengan langkah santai tapi penuh percaya diri. Kemeja hitamnya rapi, celana hitam jatuh pas di badan. Lengan baju digulung sampai sedikit di bawah siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang bersih dan jam yang harganya jelas bukan main-main. Rambutnya masih sedikit basah, tanda baru selesai mandi. Soal wangi, tak perlu ditanya. Parfum mahal itu seperti sudah jadi ciri khasnya kalau Arsya lewat, orang pasti tahu. Begitu kakinya menginjak lantai dasar, ia langsung melihat Papa dan Mamanya sudah ada di ruang keluarga. Papa Kana duduk santai di sofa, mengenakan kaus rumahan dan celana pendek, kacamata bacanya bertengger di hidung. Mama Ana berdiri di dekat meja, tas masih disampirkan di bahu, dari gesturnya menunjukkan seperti baru pulang dari luar. Mama

