"Kamu buru - buru pulang nggak?" tanya Arman sambil tetap memandang jalan. Kalimat itu membuat bahu Tanti yang tadinya tegang sedikit luruh. Setelah dia cerita tadi, kepalanya sudah penuh dengan kemungkinan dengan jawaban Arman, eh dia malah bertanya soal buru - buru. "Enggak ... kenapa memangnya, bang?" jawab Tanti hati - hati. "Kita ngopi dulu sebentar mau nggak, biar enak ngobrolnya." Tanti menoleh, menatap Arman beberapa detik. Nada bicaranya terdengar biasa, tapi entah kenapa Tanti cukup bingung juga dengan ajakan ini. "Boleh - boleh aja, sekarang baru jam setengah tiga. Aku maksimal jam lima sudah di rumah. Ada perlu soalnya." "Masih lama itu. Kita cari tempat ngopi dekat rumahmu aja." "Serius mau dekat rumahku, sekalian nganterin aku pulang? Kan beda arah kita, Bang." Arman

