16. Merasa Kehilangan

1084 Kata

Aldo pulang dengan langkah berat. Pintu rumah terbuka, namun yang menyambutnya hanya udara dingin dan kesunyian yang menyesakkan. Lampu ruang tamu menyala redup, tidak ada suara langkah kaki kecil yang biasanya tergesa menyambutnya, tidak ada senyum manis yang selalu Ririn paksakan setiap kali ia pulang. Tak ada wangi masakan. Tak ada suara piring dan sendok. Tak ada Ririn. Aldo berdiri cukup lama di ambang pintu, seolah berharap sosok itu tiba-tiba muncul dari dapur atau dari arah kamar, seperti biasanya. “Rin…?” panggilnya pelan, nyaris tidak terdengar. Tak ada jawaban. Baru saat itu dadanya terasa sesak. Rumah ini terlalu sunyi. Sunyi yang berbeda dari biasanya, sunyi yang terasa kosong, bukan tenang. Dulu, setiap kali Ririn menyambutnya dengan wajah berbinar, Aldo justru meras

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN