Jakarta, Indonesia… “Non Lou!” sebuah seruan membuat ia mendongak, Lou dengan mata bengkak entah berapa lama menangis, dengan kaki gemetar membuatnya hanya terduduk lemas. Beberapa pakaiannya robek, sebagai tanda badai yang baru saja menghantamnya. Salah satu pekerja paruh baya yang berada di rumahnya, ikut keluarga Prasetyo sudah lama. “Non, Bibi bantu!” Lou berpegangan padanya, berdiri lalu duduk. “Ardi di mana, Bi Nita?” “Sudah pergi, naik mobil kesayangannya. Bibi baru berani ke sini.” Tangan Lou memeluknya, menutupi beberapa tempat yang tak pantas dilihat. Kebiruan, tanda kiss mark dan gigitan Ardi. Lehernya juga terasa sakit. Semakin Lou berusaha meminta Ardi berhenti, dia semakin tidak senang. Mata Nita mencari sesuatu di sana, ia mengambil air putih dan meminta Lou m

