Dua jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Praditya akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke dalam kamar utama, setelah sebelumnya hanya berputar-putar di ruang tengah seperti singa yang kehilangan arah. Ia menyugar rambutnya dengan kasar, meraup wajahnya yang tampak kuyu dan frustrasi. Hatinya mencelos setiap kali teringat bagaimana sorot mata Amindita yang terluka tadi menembus jantungnya. "Sial, aku kelepasan lagi," umpatnya rendah pada diri sendiri. Ia melangkah menuju walk-in closet, ruangan luas yang didominasi aroma kayu cendana dan parfum maskulin miliknya. Dengan gerakan lambat, Praditya melepaskan kemeja kerjanya yang masih sedikit lembap, membiarkan kain mahal itu jatuh begitu saja ke lantai. Ia berdiri di depan cermin besar setinggi plafon, menatap pantulan dirin

