65

1280 Kata

Udara sejuk Kota Batu menyapu wajah Amindita saat ia berdiri di teras rumah lama milik ayahnya. Rumah ini sederhana, dengan dinding tembok yang kokoh dan halaman kecil yang ditanami bunga-bunga krisan oleh Pak Broto sebelum mereka merantau ke Jakarta bertahun-tahun lalu. Di kejauhan, siluet Gunung Panderman tampak tenang di bawah remang cahaya lampu kota, sangat kontras dengan badai yang dua hari lalu ia tinggalkan. Pak Broto baru saja masuk ke dalam untuk menyeduh teh hangat, meninggalkan Amindita sendirian dengan pikirannya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Amindita memberanikan diri menyalakan ponsel cadangan yang diberikan Arsena. Begitu koneksi internet tersambung, rentetan notifikasi meledak bagaikan serangan siber. Halaman depan media daring hingga media sosial dipenuhi o

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN