52

1126 Kata

Seminggu telah berlalu sejak insiden pelarian manis di butik itu—seminggu yang terasa seperti mimpi indah di dalam penthouse yang terisolasi dari dunia luar. Namun, pagi ini, kenyataan menghantam Amindita dengan kekuatan penuh, menghancurkan benteng kebahagiaan semu yang sempat ia bangun bersama Praditya. Amindita duduk mematung di meja kerjanya. Di depannya, terletak sebuah kartu undangan berbahan velvet mewah berwarna merah marun yang pekat—warna yang mengingatkan Amindita pada daster satin yang ia kenakan saat Praditya memeluknya di dapur dua hari yang lalu. Namun kali ini, warna itu terasa seperti darah yang merembes dari luka baru. Ukiran tinta emas di atasnya berkilau menyakitkan di bawah lampu kantor: Praditya Ararya Aryatama & Widya Bramantyo. "Seharusnya aku tahu," bisik Amindi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN