Pagi di Kota Batu menyapa dengan pelukan kabut tipis yang menyelimuti puncak Gunung Panderman. Udara dingin yang khas, aroma tanah basah, dan kicauan burung gereja di dahan pohon apel samping rumah menjadi simfoni yang menenangkan bagi Amindita. Seminggu telah berlalu sejak pelariannya dari Jakarta, dan perlahan, rona merah mulai kembali menghiasi pipinya yang sempat pucat. Rumah di Batu ini adalah penyembuh. Tidak ada suara klakson yang memekakkan telinga, tidak ada kilatan kamera wartawan, dan yang terpenting, tidak ada bayang-bayang Nyonya Gayatri yang mencekik. Amindita keluar ke teras, sudah rapi dengan sweater rajut berwarna krem dan celana jins yang nyaman. Ia menghampiri Pak Broto yang sedang asyik menyiram tanaman krisan di halaman depan. "Yah, Dita berangkat ke pasar dulu ya?

