Setelah memikirkan, meskipun masih ada secuil keraguan di dalam hatinya, Jessica akhirnya tetap pada keputusan awal. Bohong jika ia mengatakan sudah tidak memiliki perasaan sama sekali untuk Levin. Namun, ia hanya tak ingin pria itu harus menanggung beban berat di masa depan karena kondisinya saat ini. Jessica menatap mata Levin dengan tegas, meskipun hatinya bergetar. "Sudah ya, Kak. Jangan pernah bahas soal ini lagi. Kita memang orang tua Junior, tapi itu bukan berarti kita harus kembali bersama. Hubungan kita cukup sebagai bos dan sekretaris. Di luar itu, kita masih bisa jadi sahabat," ucapnya, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang, meski ada rasa perih yang merayap di d**a. Levin terlihat kecewa, kilat kesedihan jelas tertangkap di matanya. "Tapi kenapa, Jes? Apa ini soal penyak

