Ayu sedang bermain bersama keempat anaknya di kamar saat ayahnya masuk dengan wajah muram. “Nduk,” panggil ayahnya sembari memberi tanda pada Ayu untuk keluar. “Mama titip Tegar ya,” Ayu bangkit menghampiri ayahnya. “Ada suamimu di depan,” bisik pak Rohmat lirih agar tak terdengar cucu-cucunya. Ayu menggeleng. Suaminya sudah menghianatinya. Ia tak ingin lagi menemui laki-laki itu saat ini. “Dia masih suamimu.” “Papa.” “Nduk, bahkan seorang istri, ketika ingin menemui orang tuanya dan suaminya melarang, dia tetap tak boleh melanggarnya. Maafkan Papa,” pak Rohmat mengelus kepala putrinya dengan lembut. Ayu menghela napas. Dia bukan tak tahu maksud ayahnya. Dan dia juga bukan tak mengerti batasannya. Tapi hatinya masih terlalu sakit. “Papa akan temani kamu jika memang kamu membutuhka

