Wulan duduk termangu sendirian. Ia tak menyangka suaminya akan kembali drop setelah beberapa hari kemarin menunjukkan progres yang cukup signifikan. Tiba-tiba saja Ali mengalami sesak nafas parah yang membuatnya harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Dan sejak masuk rumah sakit, kondisinya tak juga membaik, membuat Wulan semakin cemas. “Mbak,” Nisa datang ditemani suaminya. “Gimana?” “Di ICU. Dokter bilang belum boleh dipindahkan.” Nisa menghela napas. Dia menatap suaminya meminta pertimbangan. “Azka sudah diberi tahu?” Wulan menggeleng. Ia tak punya cukup keberanian untuk menghubungi putra suaminya itu secara langsung. “Kamu saja yang telepon. Sore begini mungkin dia sudah gak tugas di rumah sakit.” Nisa mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi keponaka

