Bab 122: Aura Permusuhan

1183 Kata

Rumah duka itu terlihat sudah ramai saat Ayu datang. Ia turun dari mobilnya dan membantu anak-anaknya turun. Tegar menggenggam erat tangan ibunya. Ia beberapa kali pernah diajak keluarganya ke rumah ini, beberapa kali dalam moment lebaran, tapi sepertinya bukan hal indah yang terekam di kepalanya. Para tetangga yang sudah hadir lebih dulu itu memberi jalan dan menyalami Ayu dan ibunya dengan santun. Mereka mengenal Ayu sebagai menantu keluarga Pak Supono, meski ia jarang berada di sana. Ibu mertuanya menyambutnya dengan tangis. Begitu pula dengan adik perempuan Ali. Ayu memeluk mereka satu-persatu, kemudian duduk di dalam di sisi mantan ibu mertuanya bersama ibunya sendiri. Para laki-laki di luar tampak sibuk menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengurus jenazah. Saat Ayu datang, jena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN