96. Demi Menghapus Tradisi

1584 Kata

Monica keluar dari ruangan Dirga, wajahnya merah padam oleh amarah dan malu yang membara. Langkahnya berat dan terburu-buru, seolah lantai yang diinjaknya adalah sumber segala kekesalannya. Tatapannya yang penuh racun tertancap pada Kirana yang masih berdiri di dekat meja kerjanya. Namun sebelum Monica berhasil mendekati Kirana, Puspa dan dua rekan lain sudah bergerak cepat membentuk barikade hidup di antara mereka. Wajah Puspa tegang, kedua tangannya terkepal di samping tubuh. "Pergi dari sini, pengkhianat! Kamu tidak pantas berada di divisi ini!" teriak Puspa, suaranya menggema di ruangan yang sudah hening. Kirana tertegun, matanya berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan ada yang membelanya. Selama ini dia mengira semua koleganya memandangnya sebagai penyebab masalah. "Kalian ini, yan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN