Hari Senin datang terlalu cepat bagi Evana. Ia bangun dengan kepala berat dan tubuh yang seperti kehilangan tenaga. Bukan karena sakit, bukan pula karena begadang, melainkan karena hari-hari tanpa Elvano terasa seperti ruang kosong yang menelan seluruh semangatnya. Sejak Sabtu siang, Evana belum melihat suaminya lagi. Terakhir bersama Elvano adalah saat mereka sarapan bersama di warung tenda. Setelahnya, laki-laki itu hanya mengirim pesan singkat bahwa ia harus terbang mendadak ke Hongkong, tanpa penjelasan apa pun. Evana mengangguk saat membaca pesannya, mencoba mengerti, meski hatinya serasa ditinggal dalam hujan tanpa payung. Rumah mereka yang mewah itu sepi, dingin, dan terlalu luas untuk ditinggali sendirian. Evana sempat berdiri lama di balkon, menatap pemandangan saat itu, berpiki

