Bab 113. Kesempatan Terakhir

1355 Kata

"Bunda .... Bunda nggak apa-apa, kan? Sakit nggak, Bun? Maaf ya, Bun, aku baru datang. Semalam Ayah larang aku buat datang, aku di suruh di rumah, dan baru diizinin datang pagi ini, padahal aku khawatir banget sama Bunda, aku takut Bunda kesakitan pas lahirin adik bayi." Aura tersenyum lembut, mengulurkan tangannya yang bebas infus untuk mengusap pipi putrinya. "Bunda nggak apa-apa, Sayang. Kemarin cuma sakit sedikit. Sekarang Bunda udah sembuh kok, ditambah udah ketemu sama Kakak, semua rasa sakit hilang jadinya. Sini peluk Bunda, Nak, tapi pelan-pelan aja ya." Keisya memeluk leher Aura dengan sangat hati-hati. Ia menangis bahagia di bahu sang ibu. Beruntung semalam Firdaus tidak menyampaikan kondisi Aura yang sebenarnya pada Keisya karena khawatir akan membuat anak gadis itu panik da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN