"Pak Zalman serius?" pekik gadis itu, tak sengaja kedua tangannya selaras menggebrak meja. Zalman mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, memerhatikan sosok di hadapannya dengan lekat. Soraya sampai bangkit sangking terkejutnya, matanya membulat sempurna. Rahang gadis itu jatuh, tak percaya. "Aku tidak salah dengar, 'kan?" "Ti-tidak." Enggan untuk percaya semudah itu, mata yang tak menatap kaget kini menyipit, berubah menyelidiki. "Tidak, yang tadi itu pasti keliru, 'iyakan?" ulang asisten Zalman. Terus mengulang kalimat yang sama, reaksi ini normal adanya. "Mustahil, mutahil Pak Zalman melakukannya!" Sikap gadis itu membuat pria yang hanya bisa menatapnya dengan wajah melas tidak mampu berkata-kata. Terdiam cukup lama, hingga terdengar helaan napas panjang, bentuk ke frustasian

