Revan mengguyur tubuhnya berkali-kali dengan air sumur yang sedingin es. Ia menggosok kulit leher, d**a, hingga pangkal pahanya menggunakan sabun batangan sampai kulitnya memerah dan terasa perih. Ia berharap aroma Sari dan hawa dingin Ayu luntur terbawa air, namun di dalam benaknya, memori tentang bagaimana liang nikmat Sari menjepit pusakanya dengan beringas masih terekam sangat jelas. Setelah merasa cukup bersih, Revan mengenakan sarung dan kaos bersih yang ia simpan di dapur. Dengan langkah yang masih sedikit berat, ia masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, Cici dan Vita ternyata sudah menunggunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kakak sudah segar?" tanya Cici. Suaranya terdengar lembut namun ada nada menuntut di sana. "Sudah, Ci. Kakak pusing sekali, mau langsung istirahat

