Bangkitnya lagi Para Penjaga

1296 Kata

Ayu Anarawati tersungkur di atas tanah becek yang berbau menyengat dari perpaduan kotoran ayam dan aroma belerang ghaib. Kulit punggungnya yang seputih porselen—yang biasanya menjadi pemandangan surgawi bagi Revan—kini hangus menghitam, mengelupas akibat hantaman energi suci yang tidak mengenal ampun. Asap tipis terus mengepul dari lukanya, berdesis setiap kali bersentuhan dengan udara dingin malam itu. Darah hijau pekat merembes keluar, kental dan beraroma melati busuk, menyatu dengan lumpur hitam yang mengotori wajah cantiknya. Revan, yang hanya terbalut karung goni bekas yang kasar, mencoba merangkak maju dengan tangan gemetar. "Ayu! Kamu... kamu bisa dengar aku?! Ayu, bangun!" teriaknya parau. Namun, saat tangannya hampir menyentuh rambut Ayu, sebuah hawa panas menyambar kulitnya, mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN