Alina dan Nathan berjalan melewati hutan, mendaki bukit, dan melintasi lembah. Meskipun tubuh Alina belum terbiasa dengan perjalanan panjang, dia tidak mengeluh. Dia mengikuti Nathan dengan semangat yang kuat, meskipun kakinya mulai terasa sakit dan napasnya terengah-engah. Nathan sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Alina baik-baik saja. Dia terkejut melihat betapa keras kepalanya wanita itu. Meskipun wajahnya memerah dan keringat membasahi keningnya, dia tetap melangkah tanpa keluhan. "Kalau kau lelah, kita bisa berhenti sebentar," kata Nathan saat mereka tiba di sebuah bukit kecil dengan pemandangan yang indah. Alina menggeleng, meskipun napasnya terdengar berat. "Aku baik-baik saja. Aku ingin terus berjalan." Nathan tersenyum tipis, merasa kagum dengan seman

