Batas Kesabaran

1077 Kata

Pagi itu, Alara duduk di bangku kelasnya, menatap kosong ke arah whiteboard. Suara dosen yang tengah menjelaskan materi terasa seperti dengungan samar di telinganya. Buku catatannya terbuka di atas meja, namun hanya coretan asal yang memenuhi halaman, sama sekali tak mencerminkan fokus yang seharusnya. Ponselnya tergeletak di samping buku catatan, dan berkali-kali dia melirik ke layar yang kini menampilkan satu pesan balasan dari Elenio. [Ya, hati-hati. Kita harus bicara nanti. I love you.] Pesan itu seharusnya cukup untuk membuatnya tenang. Setidaknya Elenio sudah membalas. Tapi, perasaan resah yang menghimpit dadanya sejak pagi tadi justru semakin berat. Alara terjebak dalam pikirannya sendiri, bertanya-tanya dengan siapa Elenio semalam dan mengapa dia menghilang begitu saja.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN