bc

Mas Dosen, I Love You!

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
HE
drama
bxg
kicking
brilliant
campus
childhood crush
professor
like
intro-logo
Uraian

Jatuh hati dan mencintai dosen sendiri apa salah? Ya, itulah yang sedang Adinda rasakan. Walaupun dirinya disukai banyak lelaki satu kampus, tetapi wanita itu terlanjur jatuh hati pada Rayyan–dosennya sendiri. Adinda atau yang akrab disapa Dinda, mahasiswi semester tujuh, sedang memperjuangkan cinta pertamanya. Dia bahkan berani menolak Farhan ketua BEM demi Rayyan.Akan tetapi, kisah Dinda tidaklah mudah. Disaat dia hampir berhasil menaklukan Rayyan, perusahaan ayahnya diambang kebangkrutan. Dan ternyata, demi mempertahankan semuanya, Dinda dijodohkan oleh anak teman ayahnya.Lantas, langkah apa yang akan Dinda ambil? Mempertahankan cintanya, atau membantu orang tua.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Kapan Mau Kencan, Pak?
“Kali ini lagi ngerencanain apa otak lo?” “Masih susun strategi gimana caranya naklukin Mas dosen.” Plak! “Aduh, sakit, Gisel!” “Pak, Din, Pak! Enteng banget lo manggil Mas! Emang doi abang lo?” “Dia terlalu muda buat dipanggil Bapak, Sel.” “Adinda sinting!” Wanita bernama Adinda itu meringis. Tatapannya yang sejak tadi tertuju ke satu objek di depan sana, seketika dia menoleh menatap Gisel. Sambil mengusap telinga Dinda mendorong lengan Gisal. “Lo bisa jangan teriak-teriak? Lo itu duduk di samping gue, bukan di kantin. Gue ngga sebudek itu asal lo tau.” “Ya lagian otak lo astaga! Bisa ngga sehari aja jangan bahas pak Rayyan?” “Ngga bisa,” jawab Dinda dengan riang. Gadis itu kembali menatap ke depan. Tapi sial, orang yang dia pandang sejak tadi sudah tidak ada. Dinda geram, dia kembali mendorong lengan Gisel. “Gara-gara lo orangnya hilang!” sambungnya. Gisel memutar kedua bola matanya. Adinda Shafa Wirathama namanya. Sudah sejak enam bulan yang lalu dia mengagumi seorang dosen baru. Dosen muda itu memang sangat tampan, memiliki wajah yang tegas. Membuat wanita manapun yang melihat pasti akan jatuh cinta. Ya, termasuk Dinda. Dinda tidak perduli kalau saingannya satu kampus. Kalau katanya, usaha saja dulu. Soal hasil biar Tuhan yang mengatur. Gisel memang tak punya hak melarang, hanya saja terkadang dia bosan mendengarkan cerita sahabatnya itu yang selalu diacuhkan oleh Rayyan. Karena objek indahnya sudah hilang, Dinda cemberut. Dia menopang dagu menggunakan kedua tangannya. Kalau sudah begini, siapa lagi yang mau dia tatap? Pohon? Yang benar saja! “Din, kak Virgo tuh.” Gisel menyenggol lengan Dinda. “Gue maunya mas Rayyan.” “Si anjir! Jijik banget gue dengernya.” Kepalang gemas, Gisel meraih kepala Dinda, membekapnya dengan erat. Tidak perduli sahabatnya itu memberontak, yang jelas Gisel gregetan. Puas menganiaya sang sahabat, Gisel menghentikan aksinya. Dinda yang tak terima pun membalas dengan cara menjambak rambut Gisel sampai gadis itu mengaduh kesakitan. Sebelum terkena amukan, Dinda sudah lebih dulu berdiri, lalu lari sekuat tenaga. Gadis itu berlari sambil tertawa terbahak-bahak. Sesekali dia menoleh ke belakang. Melihat Gisel mengeja, Dina memekik. Namun saat ingin menambah kecepatan larinya, dia menabrak seseorang. Ya, dia yakin yang ditabrak adalah orang, bukan dinding. Karena kalau dinding, bisa dipastikan dirinya pingsan. “Kyaa!” teriak Dinda, matanya terpejam. Sudah berfikir kalau tubuhnya akan jatuh ke lantai yang dingin, namun sampai beberapa detik dia tak merasakan tubuhnya sakit karena jatuh. Perlahan kedua mata Dinda terbuka. Seketika gadis itu dibuat melotot karena dihadapannya berdiri Rayyan dengan posisi wajah mereka sangat dekat. Dengan enteng tangan Rayyan menahan tubuh Dinda agar tidak jatuh sepenuhnya ke lantai. “Mas-maksudnya pak Rayyan? Maaf, Pak, maaf. Tapi makasih loh udah nolongin saya.” Dinda tersenyum manis. Rayyan menarik tubuh Dinda agar tubuh gadis itu berdiri dengan tegap tanpa bantuan tangannya. Rayyan menghela napas lelahnya. Lagi-lagi yang dia hadapi adalah Dinda. Dinda si mahasiswi yang selalu mendekati dirinya dengan cara apapun. “Jadi, Bapak mau kencan sama saya ngga?” Tak! Satu sentilan mendarat di kening mulus Dinda. Dinda meringis, tangannya mengusap kening yang terasa kebas karena sentilan tadi. Dinda cemberut menatap Rayan. “Kamu lebih baik belajar, bukan mikirin kencan. Saya sibuk, ngga punya waktu ngurusin hal ngga penting,” ujar Rayyan tanpa memikirkan perasaa Dinda. “Kalau gitu ngga sibuknya kapan? Saya tunggu deh, kapanpun saya mau.” “Adinda,” geram Rayyan frustasi. Setiap menghadapi Dinda memang dia selalu sakit kepala. Dari banyaknya mahasiswi yang berusaha mendekat, hanya Dinda yang berani terang-terangan seperti ini. “Iya, Pak, saya di sini.” Rayyan pusing. Tidak mengidahkan jawaban sang mahasiswi, pria itu memilih beranjak pergi. Namun saat melewati Dinda, lengannya ditarik oleh wanita itu. Keduanya saling pandang, seolah lupa sedang di mana. Adegan tatap-tatapan itu dilihat oleh mahasiswa lainnya termasuk Gisel dan kedua temannya yang lain. Gisel sudah menepuk kening, dia benar-benar merutuki kelakukan sahabatnya itu. “Sel, itu teman lo mulai menggatal lagi.” “Teman lo berdua juga!” sahut Gisel tak terima. Vira dan Aika tertawa. Kalau sedang mode cegil, mereka enggan sekali mengakui Dinda sahabatnya. Apalagi kalau sedang menggatal kepada Rayyan. Seolah gadis itu tak punya harga diri. Padahal sejak dulu lebih banyak ditolaknya. Walaupun begitu, ketiganya tak ada yang berniat menghampiri Dinda dan menariknya menjauh dari Rayyan. Mereka hanya melihat, memperhatikan dari jarak yang tak terlalu jauh. “Bapak kenapa nolak saya terus, sih? Apa karna saya kurang cantik? Nanti saya bisa dandan kok, tenang aja. Bapak ngga akan malu bawa saya ke restoran.” Dinda menatap Rayyan dengan penuh harap. “Dinda, sebentar lagi kelas akan dimulai. Sebaiknya kamu masuk ke kelas, sebelum saya yang masuk duluan. Karna kalau sampai saya masuk duluan daripada kamu, kamu saya anggap alpa. Jadi, lebih baik kita belajar dan lupakan kencan itu.” Rayyan menurunkan tangan Dinda dari lengannya. Tapi siapa sangka, pelukan Dinda sangatlah erat. “Sekali aja, Pak.” “Adinda Shafa Wirathama.” Saat Rayyan menyebutkan nama panjangnya, Dinda tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. Tanpa banyak kata Dinda langsung melepaskan pelukannya pada lengan sang dosen. Setelah lengannya terlepas dari pelukan Dinda, Rayyan melanjutkan jalannya menuju ruangan. Sambil berjalan pria itu memijat keningnya yang berdenyut. Astaga, entah sampai kapan dia harus menghadapi sosok Dinda. “Woy, cegil!” Kenal itu suara siapa, Dinda kembali berlari, lalu berbelok sebelum akhirnya menaiki anak tangga menuju lantai tiga di mana kelasnya berada. Lelah berlari, Dinda sejenak duduk di anak tangga. Padahal sedikit lagi dia sampai, tetapi kakinya sudah bergetar. Beberapa detik duduk, dia mendengar suara Gisel, Vira, dan Aika. Lagi-lagi Dinda menghindar dengan cara berlari. Setibanya di kelas, dia langsung duduk manis sambil mengatur napasnya yang memburu. Tak lama berselang sosok tiga sahabatnya datang. Dinda nyengir, kedua jarinya terangkat membentuk huruf V. Vira duduk di depan Dinda, sedangkan Aira dan Gisel di kanan dan kiri Dinda. Ketiganya kompak mendengus. Kelas yang awalnya bising seketika hening. Bukan karena ada hantu, melainkan Rayyan yang sudah masuk ke dalam kelas. Dinda yang selalu terpesona dengan ketampanan dosennya terus menatap sambil menopang dagu. Dalam diamnya dia berkhayal. Berkhayal bagaimana indahnya hidup kalau dia bisa menjadi istri dari seorang Rayyan yang sempurna itu. “Sudah masuk semua ya? Atau masih ada yang di luar? Kalau masih ada, ya seperti biasa. Saya akan anggap alpa. Oke baik, kelas kita mulai.” Rayyan menyalahkan laptop, menghubungkannya ke proyektor. “Pak!” Dinda mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Rayyan mengangkat kepalanya menatap Dinda. “Tidak sekarang, Dinda. Sekarang waktunya belajar! Saya tidak mau ada yang main-main di kelas.” Mulut Dinda mengatup, tangannya turun kembali ke bawah. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook