Awan senyum. Dia tatap wajah dari sosok yang membuatnya kepikiran sepanjang waktu, sejak Awan pulang tadi. "Makasih." Belum juga say hai, atau salamlah, ya, yang umum dikit. Ini nggak. Beda. Awan bilangnya makasih dulu. Padahal sambungan nirkabel via video call itu pun barulah terhubung. Awan duduk bersandar di jok mobil, sengaja mengasingkan diri ke sini demi menghubungi Nara dan mendapatkan quality time. Namun, kembali pada kata "makasih", bukankah akan lebih terdengar lazim jika diganti dengan "maaf"? "Buat?" sahut Nara di seberang telepon sana, jutek. Rautnya juga sering melengos, atau malah menunjukkan tangkapan dari kamera belakang. Bukan lagi wajahnya. "Belum bobok?" Bukannya menjawab, Awan malah bertanya. Tak mengindahkan ucapan istrinya. "Ini mau. Udah dulu, ya." "Ai!" ser
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


