Jilid II - 64: Rusuh

2041 Kata

"Wan, ada anak-anak," bisik Nara. Sehabis makan martabak dan berakhir dengan gigitan nikmat dari Awan di bibirnya, Nara digiring ke kamar. Entah Awan lupa atau memang tidak ingat bahwa di dalam sana ada Topan, Badai, dan Gempa. "Awan!" Memekik pelan, Nara cengkeram dua tangan Awan yang mulai menyusup. Sedang Nara sendiri sudah Awan rebahkan di sofa. Nara panik mencuri-curi pandang pada trio bencana, di kasur non-ranjang sana mereka tertidur. Kaki Nara dilebarkan. Sungguh, nggak paham kenapa baru di awal adegan sudah jauh ke sana mainnya. Yang Nara ingat jelas hanya saat dia makan martabak, enak, terus celemotan cokelatnya, diledek Awan. Katanya Nara persis Gempa, atau memang Gempa yang menurun dari Nara. Eh, eh, tahu-tahu bibir Awan sudah nemplok di material yang sama teksturnya. Lembut.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN