Dalam sekali tegak minuman di gelas Ibra habis tak bersisa. Tangannya kemudian beralih mengambil pematik dan menyalakan sebatang rokok yang terjepit di jemarinya. Diantara hembusan asap putih yang mengepul dari mulut dan hidungnya, matanya tampak berbinar senang melihat dua orang buruannya sudah babak belur mengenaskan. Tidak berlebihan kalau dia merasa minuman dan rokoknya terasa lebih nikmat malam ini, karena suguhan di depannya begitu menyenangkan baginya. Ibra sangat menikmati setiap jerit kesakitan Yoga dan Sonia. Keduanya berdiri sempoyongan dengan tangan terikat tinggi di atas kepala. Darah mengalir dari luka-luka di wajah dan sekujur tubuh mereka. Naresh, Erwin dan Ryan benar-benar memenuhi janjinya pada mendiang Dini. Mereka seperti orang kesetanan memukuli Yoga Aditama layak

