BAB 15: Otoritas Tanpa Batas
Klik.
Suara pintu kamar yang akhirnya berhasil ditutup Ressa terasa tidak berarti. Ia tahu, kunci itu hanyalah penghalang fisik, sementara secara mental, Regin sudah lama merobek privasinya. Ressa bersandar di balik pintu, memejamkan mata, mencoba menulikan telinga dari detak jantungnya sendiri yang berdegup liar.
Di luar, ia mendengar langkah kaki Regin menjauh. Perlahan, sunyi, namun penuh kepastian.
Ressa segera masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan pancuran air dingin, berharap suhu yang ekstrem bisa membekukan segala pikiran kotor dan ketakutan yang merayapi otaknya. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tatapan Tante Ratna di bandara tadi kembali muncul.
"Jangan sampai melampaui apa yang seharusnya."
Ressa mengusap wajahnya kasar. "Gila. Ini gila," gumamnya di bawah kucuran air.
Satu jam kemudian, Ressa keluar dari kamar dengan pakaian tidur yang paling tertutup yang ia miliki—kaus lengan panjang dan celana kain longgar. Ia lapar, tapi ia lebih takut pada keheningan di luar sana. Saat ia melangkah ke area dapur, ia menemukan pemandangan yang tak terduga.
Regin sedang duduk di kursi bar, membelakanginya. Di atas meja sudah tersedia dua porsi nasi goreng aroma bawang yang harumnya memenuhi ruangan.
"Duduk, Res. Aku tahu kamu belum makan sejak siang," ujar Regin tanpa menoleh. Pendengarannya seolah setajam srigala.
Ressa ragu sejenak, namun perutnya tidak bisa diajak kompromi. Ia duduk di kursi paling ujung, memberi jarak dua kursi kosong di antara mereka.
"Kenapa jauh sekali?" Regin menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Aku tidak akan menggigitmu. Kecuali kalau kamu yang minta."
"Regin, jaga bicaramu," sahut Ressa ketus, mencoba mempertahankan wibawa sebagai 'si pemilik rumah'.
Regin terkekeh, ia mulai menyuap nasi gorengnya. "Mamah benar. Kamu memang wanita yang pintar. Tapi wanita pintar biasanya tahu kapan harus berhenti berbohong pada diri sendiri."
"Aku tidak bohong soal apa pun."
"Oh ya? Lalu kenapa tanganmu gemetar saat memegang sendok itu?"
Ressa refleks meletakkan sendoknya. Benar. Jemarinya bergetar halus. Ia menarik napas panjang, menatap Regin lurus-lurus. "Gin, dengar. Papa dan Tante Ratna serius. Mereka akan menikah. Itu artinya kita akan jadi keluarga. Kamu paham kan konsekuensinya kalau kita tetap seperti ini?"
Regin meletakkan alat makannya, memutar kursi bar agar sepenuhnya menghadap Ressa. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatap Ressa dengan binar yang sulit diartikan.
"Konsekuensi? Kamu bicara seolah kita sedang melakukan tindak kriminal," bisik Regin. "Dengar, Res. Mamah mau menikah dengan Om Bram karena dia butuh 'tiket' kehidupan yang lebih baik. Dia butuh keamanan. Dia butuh status."
Regin menjeda kalimatnya, matanya menggelap. "Tapi aku? Aku tidak butuh itu semua dari kamu. Aku tidak butuh status 'kakak' atau 'adik'. Aku hanya butuh kamu mengakui bahwa malam itu, saat aku menciummu, kamu tidak menganggapku sebagai adik titipan Papa."
"Itu kesalahan, Regin! Aku khilaf!"
Regin bangkit dari kursinya. Langkahnya tenang namun terasa menekan. Ressa ingin berdiri dan lari, tapi kakinya seolah terpaku ke lantai marmer dapur. Regin berhenti tepat di depan kursi Ressa, mengurung wanita itu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pinggiran meja bar.
"Khilaf tidak terjadi dua kali, Res, lagian... Aku sudah melihat semuanya. Dan.."
"Cukup, Gin. Kita tidak Belum melakukanya."
"Melakukan apa?"
"Ya itu.. milikmu belum masuk" ucap Ressa malu.
"Ya.. dan aku menyesal malam itu, tidak tidak terjadi"
Regin mencondongkan tubuhnya, aroma tubuhnya yang maskulin dan hangat seketika menarik paksa ingatan Ressa kembali ke tiga malam yang lalu. Malam di mana hujan turun deras membasuh Jakarta, tepat satu malam sebelum Papa dan Tante Ratna tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya.
Malam itu, mereka baru saja pulang dari makan malam berdua di sebuah restoran redup di kawasan Jakarta Selatan. Di dalam mobil yang terparkir di rubanah apartemen yang gelap, segalanya dimulai.
FLASHBACK: Tiga Malam yang Lalu
"Res..." gumam Regin di sela ciuman mereka yang terasa seperti candu di dalam kabin mobil yang sempit. "Aku ingin lebih... tapi tidak di mobil ini."
Napas mereka beradu, menciptakan uap tipis yang mengaburkan kaca jendela, mengisolasi mereka dari dunia luar. Ressa hanya bisa mengangguk lemah, membiarkan logikanya tertidur lelap.
Begitu pintu unit apartemen mereka tertutup dan kunci diputar, kegelapan menyergap. Hanya ada siluet temaram cahaya kota yang menyelinap lewat jendela besar, membiaskan warna jingga dan biru di atas kulit mereka.
Regin menyudutkan Ressa ke pintu kayu yang dingin, kontras dengan sentuhannya yang membakar.
Regin mulai menelusuri lekuk punggung Ressa yang terekspos. Jemarinya seperti kuas yang melukis di atas kanvas kulit yang halus, mengirimkan gelombang elektrik yang membuat lutut Ressa melemah. Saat ritsleting gaun sutra itu ditarik perlahan, kainnya luruh layaknya kelopak bunga yang gugur ke lantai, menyisakan Ressa dalam kerentanan yang puitis.
Ressa pasrah saat Regin menjelajahi setiap inci wilayahnya dengan bibir yang menuntut.
Regin bergerak layaknya seorang penjelajah yang haus, mengecap manisnya kulit Ressa dari leher hingga turun ke lembah yang lebih dalam.
Ketika bibir dan lidah Regin bermain dengan presisi yang mematikan di pangkuan pahanya, Ressa merasa dunianya pecah menjadi kepingan cahaya. Ia terlempar ke angkasa, melayang di antara bintang-bintang saat sensasi panas itu membakar seluruh kesadarannya. Dua kali ia mencapai puncak surgawi, merintih menyebut nama pria yang seharusnya tidak ia miliki itu.
"Regin... kamu hebat," isak Ressa di tengah napasnya yang tersengal, jemarinya meremas rambut Regin yang berantakan.
Namun, saat Regin hendak melakukan penyatuan raga yang sesungguhnya—di saat hasrat pria itu sudah berada di ambang batas pengabdian yang paling purba—Ressa mendadak ucapan Tante Ratna terngiang. 'titi Regin ya Res, agar Dy tak menjamah pergaulan bebas di jakarta. Ketakutan itu kembali menyambar.
"Tunggu! Aku belum pernah melakukannya." Kata Ressa gugup.
"Sama" sahut Regin dengan mata yang menggelap.
"Aku mohon, jangan lakukan."
"Aku sudah lama menunggu momen ini, Res," jawab Regin, suaranya parau oleh keinginan yang memuncak.
"Tidak... jangan lakukan sekarang, kumohon. Belum saatnya," bisik Ressa, teringat janji setianya pada Tante Ressa.
Regin terengah, otot-otot tubuhnya menegang hebat, menahan beban gairah yang nyaris meledak. "Lalu? Bagaimana nasibnya yang sudah mengeras ini, Res?"
Ressa menatap mata Regin yang penuh damba. "Biar aku bantu..."
Malam itu, di tengah kesunyian apartemen yang hanya ditembus suara rintik hujan di luar, penyatuan raga memang tidak terjadi. Ressa menggunakan kelembutan jemari dan bibirnya untuk meredam api yang membakar Regin, membiarkan pria itu mencapai pelabuhannya dalam sebuah pengabdian yang sunyi namun intim.
MASA KINI: Apartemen Ressa
Regin menarik kembali wajahnya sedikit, namun matanya tetap mengunci mata Ressa yang kini tampak berkaca-kaca karena memori itu.
Ressa tersadar dari lamunannya.
"Malam itu, aku bisa menahannya Ress.. tapi, tidak untuk sekarang!"