Air mata Bulan mengalir tanpa bisa ia cegah. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek-pendek, seolah kata-kata dokter itu berubah menjadi beban berat yang menindih dadanya. Skizofrenia. Kata itu terus terngiang di kepalanya. Ia menunduk, jemarinya gemetar, sementara di sudut ruangan, Varelly berdiri dengan wajah tegang, tetapi sorot matanya justru tampak berbeda, bukan cemas, melainkan seperti seseorang yang baru saja mendapatkan celah untuk menang. Bu Rengganis terduduk di kursi tunggu, tubuhnya lemas. Wanita paruh baya itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. “Kenapa hidup anak saya harus seberat ini, Tuhan…” lirihnya tertahan. Kinara berdiri di samping ibunya, memeluk bahu Bu Rengganis dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu masih terlihat shock dengan apa yang b

