Amel menatap pada peti keluarganya yang ada di depannya. Semuanya sudah diurus oleh Jefian. Amel menghapus air matanya kasar. Rasa sesak di dadanya membuat dia tidak bisa melihat keluarganya akan dikuburkan nantinya. Amel jatuh terduduk di lantai di depan peti mati. Lalu mengelamkan kepalanya di peti mati ayahnya. “Pak, tahu nggak? Dulu Amel pernah bawa piala pulang, mendapatkan juara umum di sekolah. Terus pialanya rusak dan diambil sama anak nakal. Terus Amel cari pialanya udah nggak ada. Amel sedih Pak. Padahal Bapak setiap Amel mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Bapak pasti merasa bangga sama Amel, dan peluk Amel.” ucap Amel menangis. “Pak, kenapa hidup kita tidak pernah membaik? Disaat Amel sudah membuat Bapak tidak perlu bekerja keras lagi. Tapi lihat sekarang? Kalian mening

