“Kamu di mana?” Alyan tidak terdengar terkejut atas ceritaku. “Di perjalanan menuju kantor. Daddy menyita mobilku juga melarangku menyetir sendiri. Kita harus bicara, segera mungkin.” Ujarku. Selama bicara dengan Alyan, aku menahan diri untuk menyebut namanya. Sebab aku tahu jika satu nama saja terlontar dari mulutku maka sudah pasti orang di depanku ini akan melaporkan pada Daddy. Aku membalas tatapan matanya yang sejak tadi mencuri-curi. Dia sempat terkejut kemudian menundukkan kepala. Aku menjauhkan ponsel, “apa yang kamu lihat? Berhenti menatap saya!” tegurku. “Maafkan saya.” Mengendus kesal, aku kembali bicara pada Alyan. “Ada apa?” tanya Alyan yakin bila mendengar omelanku barusan. “Tidak. Aku hanya tidak nyaman dengan orang asing.” Kataku dengan sengaja. Alyan menarik

