Apa dia Tidak Beralas Kaki?

1148 Words

Dikediamannya, Edmund menatap langit gelap yang berkabut, tidak ada bintang apalagi bulan. Dan dia tidak pernah menunggu dia benda langit itu untuk di nikmati. Sambil menyesap brandy pikirannya melayang, tatapannya menuju satu titik yang sudah rata dengan tanah, tempat dimana gadis itu tinggal selama ini. Setiap kali mengingat gadis itu herani melarikan diri dengan cara melukainya, rahangnya mengeras dengan emosi yang membuncah. Tidak akan dia biarkan gadis itu lepas, tidak sampai menginginkannya mati. Ya ... mati dengan cara yang paling menyakitkan adalah akhir yang bagus untuk gadis itu. Tidak peduli seberapa bengis rencananya, pada akhirnya gadis itu akan mati dengan cara yang paling diinginkannya. "Tuan, kereta kuda sudah siap." Lapor Polo yang kehadirannya tidak di hiraukan Edmund

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD