"Aku bilang juga apa!" Norman frustasi saat ini. Tiba-tiba Edmund menyampaikan kabar melalui orang suruhannya ingin datang berkunjung kekediaman Zavion dengan alasan kunjungan mitra kerja. Norman menatap kesal temannya yang masih duduk terpaku tanpa bereaksi sama sekali, "sekarang bukan saatnya kau membatu seperti ini. Sudah ku duga dia tahu istrinya ada di tanganmu. Sebelum semuanya terlambat lebih baik kau mengaku sekarang!" "Tidak akan." Suaranya tenang dan rendah, nyaris Norman tidak percaya kalau itu suara temannya. "Jangan keras kepala! Jelas kau tahu kalau dia mencurigaimu. Dan pegeledahan beberapa waktu lalu hanya alasan untuk sampai kerumah ini! Zavi, jika kau tidak menyayangi nyawamu atau nyawaku, pikirkan nyawa orangtua dan kedua adikmu! Demi Tuhan! Jangan sampai mereka menan

