Livia kembali berdiri di balik jendela kelas dengan ekspresi yang tak berubah sejak seminggu terakhir. Tatapannya terpaku pada sosok Vincent yang sedang menggendong Nayla sambil menggandeng tangan Vivienne dan Valiant. Langkah kaki Vincent santai, nada bicaranya lembut ketika ia menyemangati kedua anak kembarnya yang pagi itu terlihat sedikit enggan masuk ke kelas. Livia menggigit bibirnya pelan. Ada sesuatu dalam diri Vincent yang tidak bisa ia abaikan—kesan hangat, sosok ayah penuh kasih, dan ketampanan yang tak tertutup meski lelaki itu mengenakan pakaian kasual sederhana. Setiap pagi, Livia selalu datang lebih awal. Bukan karena disiplin semata, tapi karena ia tak ingin melewatkan momen ketika Vincent datang mengantar anak-anaknya. Semakin hari, rasa yang ia simpan tumbuh makin besar,

